Rabu, 31 Desember 2025

Kehilangan Hampir 100 Juta Pertama



Akhir - Akhir ini mencuat lagi kisah penipuan berkedok dan embel embel syariah. ahh FAKK
.

Ini membuka luka lama saya di tahun 2023 lalu .Saya menulis ini bukan karena dendam pribadi, tetapi sebagai peringatan agar orang lain tidak ikut terjebak seperti saya.

Saya menulis kisah ini bukan karena dendam pribadi, melainkan sebagai peringatan agar orang lain tidak mengalami apa yang pernah saya alami.

Kisah ini adalah tentang kehilangan Hampir 100 juta(100 Juta Kurang sedikit sih sbnernya mah di 90 an jt 😁) pertama saya—kehilangan yang terjadi bukan karena spekulasi berisiko tinggi, bukan karena judi, dan bukan karena gaya hidup berlebihan, tetapi justru ketika saya berusaha berhati-hati dan memilih lembaga yang saya yakini aman secara nilai dan prinsip.

Saya menabung di Koperasi BMT Ash Shiddiq dengan niat yang tulus:
ingin menghindari riba, ingin mendukung lembaga berbasis syariah, dan percaya bahwa prinsip amanah akan dijaga dengan sungguh-sungguh.

Bagi saya, kata syariah bukan sekadar label. Ia adalah janji moral.

Namun berdasarkan pengalaman pribadi saya, kenyataan yang saya hadapi tidak sejalan dengan harapan tersebut.

Sejak sekitar Agustus 2023, saya tidak lagi dapat menarik simpanan saya.
Pada awalnya terdapat penundaan dan penjelasan, kemudian janji-janji yang tidak kunjung terealisasi. Hingga pada satu titik, pelayanan berhenti dan kantor tidak lagi beroperasi sebagaimana sebelumnya.

Saya telah berupaya menempuh jalan yang tersedia bagi anggota: komunikasi, permintaan resmi, hingga mengirimkan surat somasi. Akan tetapi, dalam pengalaman saya, tidak ada penyelesaian yang memberikan kepastian atas hak saya sebagai anggota.

Saya juga pernah membawa persoalan ini ke ranah hukum.
Pengadilan pada akhirnya menolak gugatan saya dengan pertimbangan kewenangan dan aspek teknis, bukan dengan menilai substansi kerugian yang saya alami. Putusan tersebut saya hormati sebagai proses hukum, namun tidak menghapus fakta bahwa saya kehilangan akses atas dana saya.

Berdasarkan dokumen dan informasi yang saya miliki, terdapat struktur pengurus dalam koperasi tersebut. Sebagai anggota, saya beranggapan bahwa pengurus memiliki tanggung jawab moral dan organisatoris terhadap dana anggota, termasuk memastikan adanya pelayanan, transparansi, dan mekanisme penyelesaian ketika terjadi masalah. Ketika hal-hal tersebut tidak saya rasakan, saya menilai telah terjadi kelalaian dalam pengelolaan amanah, setidaknya dari sudut pandang saya sebagai anggota.

Yang paling berat bukan hanya soal nominal uang.
Tetapi rasa kehilangan kepercayaan—kepercayaan yang dibangun atas nama nilai dan keyakinan.

Saya menabung dengan itikad baik.
Saya mengikuti aturan.
Saya bersabar.

Namun hingga tulisan ini dibuat, saya belum mendapatkan kembali hak saya.

Saya jujur pada diri saya sendiri:
saya belum mengikhlaskan satu rupiah pun dari dana tersebut.
Bukan karena semata-mata nilainya, tetapi karena itu adalah hasil kerja keras, waktu, dan harapan yang saya titipkan dengan penuh kepercayaan.

Jika pada akhirnya di dunia ini tidak semua perkara dapat diselesaikan secara tuntas, saya meyakini bahwa pertanggungjawaban moral dan spiritual tetap ada. Bukan untuk balas dendam, melainkan agar amanah tidak dianggap ringan.

Kepada siapa pun yang membaca tulisan ini, izinkan saya menyampaikan satu pesan penting:

Berhati-hatilah.
Jangan hanya melihat nama, label, atau klaim syariah.
Tanyakan tata kelola, pengawasan, transparansi, dan perlindungan hukum bagi anggota.
Keimanan seharusnya membuat kita lebih bijak, bukan lebih lengah.

Semoga kisah kehilangan 100 juta pertama saya
cukup menjadi pelajaran,
agar Anda tidak perlu mengalami hal yang sama.

Tulisan ini saya pertanggung jawabkan hidup dan mati
sampai jumpa dipengadilan yang paling adil di akhirat kelak :)



31/12/2025