Semester tujuh di Teknik Mesin Pembangkit Tenaga Listrik PNJ adalah masa yang paling santai menurutku. Mata kuliah makin sedikit, ritme kampus melambat, seolah memberi ruang bernapas sebelum hidup benar-benar menuntut jawaban. Banyak teman memilih menghabiskan waktu di perpustakaan, mengejar indeks prestasi yang masih bisa diselamatkan. Aku justru lebih sering ditemukan di Kantek—kantin Poltek yang sudah seperti rumah kedua.
Di sana, bukan buku tebal yang menemaniku, melainkan segelas es Nutrisari, kadang kopi hitam, dan tawa teman-teman yang mengalir tanpa rencana. Obrolan kami sering tidak penting: tentang hidup, tentang masa depan yang samar, tentang mimpi yang belum tahu akan ke mana. Waktu berjalan pelan, sering sampai larut malam. Di momen-momen itu, aku merasa hidup—meski bayang-bayang skripsi perlahan datang seperti awan gelap di kejauhan.
Aku sadar posisiku biasa saja. Nilai-nilaiku tidak secemerlang teman-teman sekelasku. Tidak ada prestasi akademik yang bisa dibanggakan. Di saat banyak yang sibuk pacaran, sibuk menjaga hubungan agar tetap utuh, aku justru sibuk menjaga kebersamaan dengan teman-teman. Nongkrong, bercanda, saling mendengarkan keluh kesah—itu caraku bertahan.
Kala itu saya mendaftar rekrutmen mahasiswa tingkat akhir perusahaan BUMN Indonesia Power yang bergerak dibidang pengoperasian dan pemeliharaan pembangkit listrik di indonesia. Ya perusahaan itu memang saya keteahui sejak semester 1 ,awal perkuliahan , karna memang prodi saya adalah pembangkit tenaga listrik.
"Teman teman kamu yang daftar rekrutmen Indonesia Power IPK nya tiga semua, hanya kamu yg dibawah tiga,Ya dicoba sajalah" kata Pak Hendra(samaran) dengan pesimis, dosen pembimbing Akademik Semester 7 -ku, sambil melihat transkrip nilaiku. IPK-ku hanya pas-pasan, bahkan tidak menyentuh angka tiga. Beliau tampak pesimis saat mengetahui berkas pendaftaran melamar ke Indonesia Power. Di matanya, aku hanyalah mahasiswa yang lebih sering nongkrong daripada belajar. Tapi bagiku, angka-angka itu tidak menceritakan seluruh perjuanganku.
Kejutan pertama datang lewat web recruitmen Indonesia Power. Aku lolos seleksi administrasi! Dari ratusan pelamar, namaku terselip di sana. Aku bersorak alhamdulillah dalam hati aku harus masih melewati tes delapan tahap untuk tembus ke perusahaan itu. Aku tahu ini akan sulit, tapi pintu itu baru saja terbuka sedikit untukku.
Hari itu aku langsung naik kereta untuk Tes tahap pertama dan kedua adalah TPA dan Tes Intelijensi di PPM Manajemen. Tes pertama aku santai dan mengandalkan logikaku saja soal soal TPA pada umumnya seperti numerik, sinonim, antonim dan premis dll
Seteleah selesai tahap pertama dan istrirahat dilanjut tes tahap kedua yaitu tes intelijensi. Jantungku berdegup kencang saat tes kedua melihat soal-soal termodinamika. Besaran entalpi dan siklus Rankine menatapku balik dengan sinis. Aku ingat betul, di kelas dulu, nilai termodinamikaku adalah D. Aku mencoba memutar otak, mengingat setiap penjelasan yang dulu hanya masuk telinga kiri dan keluar telinga kanan. Aku kerjakan semampuku, untung saja soalnya pilihan ganda dan ada soal bukan hitungan, soal soal berbasis wawasan.
pukul menunjukkan 01.30 WIB. aku pun langsung bergegas tidur.
Tahap berikutnya adalah Tes Psikoetes,
Selanjutnya wawancara Psikolog dan Focus Group Discussion (FGD). Di dalam ruangan ber-AC, kepalaku justru terasa panas dingin. Kami diberikan 10 point terkait indikator Perusahaan yang ideal , kami diminta untuk mengutukan prioritas dari nomer 1 hingga 10. Aku mencoba bicara dengan tenang, meski dadaku bergemuruh. Setiap kata yang keluar terasa seperti pertaruhan antara masa depan atau kembali ke titik nol di Kantek.
Aku belajar menahan diri untuk tidak terlalu dominan kala itu. namun ketika giliran saya bersuara dan berpedapat, saya sampaikan mana urutan pertama dengan argumen kuat saya, dan tidak terbantahkan ternyata saat itu , dibelakang kami 1 psikolog memperhatikan.
Beberapa bulan kemudian, sebuah SMS masuk ke ponselnku. Mata berkaca-kaca saat membaca kata "Selamat". Ia diterima di Indonesia Power Sebagai On job Training dan menandatangai kontrak sebagai calon pegawai Tetap.
Aku ini bukan anak pintar.
Bukan pula mahasiswa teladan dengan IPK tinggi.
Aku anak “kantek”—IPK pas-pasan, kemeja disemprot pilok biar layak dipakai.
Peluangku? Kecil.
Modal akademik? Biasa saja.
Kerajinan? Jujur, juga tidak istimewa.
Tapi hidup sering memberi pelajaran aneh:
yang terlihat kecil belum tentu sia-sia,
dan yang tampak mustahil belum tentu tertutup.
Aku tidak percaya keberhasilanku murni karena hebatnya diriku.
Kalau hari ini aku bisa berdiri di sini, itu bukan karena IPK, bukan karena CV yang mentereng.
Aku yakin, ini karena izin Allah
dan doa orang tua yang tak pernah putus—bahkan ketika aku sendiri ragu pada diriku.
Narasi hidupku sederhana:
kita boleh biasa saja,
kita boleh tidak sempurna,
tapi jangan pernah berhenti mencoba dan berserah.
Karena kadang,
Allah mengubah peluang kecil
bukan untuk membuktikan kita hebat,
tapi untuk mengingatkan bahwa kita tidak sendirian.






