Jumat, 02 Januari 2026

Pengalaman Saat Rekrutmen Indonesia Power



Semester tujuh di Teknik Mesin Pembangkit Tenaga Listrik PNJ adalah masa yang paling santai menurutku. Mata kuliah makin sedikit, ritme kampus melambat, seolah memberi ruang bernapas sebelum hidup benar-benar menuntut jawaban. Banyak teman memilih menghabiskan waktu di perpustakaan, mengejar indeks prestasi yang masih bisa diselamatkan. Aku justru lebih sering ditemukan di Kantek—kantin Poltek yang sudah seperti rumah kedua.

Di sana, bukan buku tebal yang menemaniku, melainkan segelas es Nutrisari, kadang kopi hitam, dan tawa teman-teman yang mengalir tanpa rencana. Obrolan kami sering tidak penting: tentang hidup, tentang masa depan yang samar, tentang mimpi yang belum tahu akan ke mana. Waktu berjalan pelan, sering sampai larut malam. Di momen-momen itu, aku merasa hidup—meski bayang-bayang skripsi perlahan datang seperti awan gelap di kejauhan.

Aku sadar posisiku biasa saja. Nilai-nilaiku tidak secemerlang teman-teman sekelasku. Tidak ada prestasi akademik yang bisa dibanggakan. Di saat banyak yang sibuk pacaran, sibuk menjaga hubungan agar tetap utuh, aku justru sibuk menjaga kebersamaan dengan teman-teman. Nongkrong, bercanda, saling mendengarkan keluh kesah—itu caraku bertahan.

Kala itu saya mendaftar rekrutmen mahasiswa tingkat akhir perusahaan BUMN Indonesia Power yang bergerak dibidang pengoperasian dan pemeliharaan pembangkit listrik di indonesia. Ya perusahaan itu memang saya keteahui sejak semester 1 ,awal perkuliahan , karna memang prodi saya adalah pembangkit tenaga listrik.


"Teman teman kamu yang daftar rekrutmen Indonesia Power IPK nya tiga semua, hanya kamu yg dibawah tiga,Ya dicoba sajalah" kata Pak Hendra(samaran) dengan pesimis, dosen pembimbing Akademik Semester 7 -ku, sambil melihat transkrip nilaiku. IPK-ku hanya pas-pasan, bahkan tidak menyentuh angka tiga. Beliau tampak pesimis saat mengetahui berkas pendaftaran melamar ke Indonesia Power. Di matanya, aku hanyalah mahasiswa yang lebih sering nongkrong daripada belajar. Tapi bagiku, angka-angka itu tidak menceritakan seluruh perjuanganku.

Kejutan pertama datang lewat web recruitmen Indonesia Power. Aku lolos seleksi administrasi! Dari ratusan pelamar, namaku terselip di sana. Aku bersorak alhamdulillah dalam hati aku harus masih melewati tes delapan tahap untuk tembus ke perusahaan itu. Aku tahu ini akan sulit, tapi pintu itu baru saja terbuka sedikit untukku.

Hari itu aku langsung naik kereta untuk Tes tahap pertama dan kedua adalah TPA dan Tes Intelijensi di PPM Manajemen. Tes pertama aku santai dan mengandalkan logikaku saja soal soal TPA pada umumnya seperti numerik, sinonim, antonim dan premis dll

Seteleah selesai tahap pertama dan istrirahat dilanjut tes tahap kedua yaitu tes intelijensi. Jantungku berdegup kencang saat tes kedua melihat soal-soal termodinamika. Besaran entalpi dan siklus Rankine menatapku balik dengan sinis. Aku ingat betul, di kelas dulu, nilai termodinamikaku adalah D. Aku mencoba memutar otak, mengingat setiap penjelasan yang dulu hanya masuk telinga kiri dan keluar telinga kanan. Aku kerjakan semampuku, untung saja soalnya pilihan ganda dan ada soal bukan hitungan, soal soal berbasis wawasan.




.




 pukul menunjukkan 01.30 WIB. aku pun langsung bergegas tidur.

Pagi buta saya dan teman saya bernama Iqbal yang juga lolos tahap selanjutnya , kami langsung naik kereta untuk ke PPM managemen Dari depok ke Jakarta..
Tahap berikutnya adalah Tes Psikoetes,


Pagi itu, dengan hanya tidur tiga jam,  Tubuhku terasa berat ditambah lagi aroma khas cat di kemejaku yg sedikit menyengat, tapi aku harus menghadapi tes Kraeplin dan serangkaian tes psikotes. Menjumlahkan angka-angka tanpa henti di atas kertas lebar. Tanganku mulai kaku, sama kakunya dengan kemeja putih yang aku "pylox". Aku terus menghitung, berharap konsentrasiku tidak hancur oleh rasa kantuk yang luar biasa.

Selanjutnya wawancara Psikolog dan Focus Group Discussion (FGD). Di dalam ruangan ber-AC, kepalaku justru terasa panas dingin. Kami diberikan 10 point terkait indikator Perusahaan yang ideal , kami diminta untuk mengutukan prioritas dari nomer 1 hingga 10. Aku mencoba bicara dengan tenang, meski dadaku bergemuruh. Setiap kata yang keluar terasa seperti pertaruhan antara masa depan atau kembali ke titik nol di Kantek.

Aku belajar menahan diri untuk tidak terlalu dominan kala itu. namun ketika giliran saya bersuara dan berpedapat, saya sampaikan mana urutan pertama dengan argumen kuat saya, dan tidak terbantahkan ternyata saat itu , dibelakang kami 1 psikolog memperhatikan. 

Tahap wawancara menjadi tantangan terakhir yang berat. Pewawancara bertanya dengan tajam tentang IPK-ku yang rendah. aku menjawab dengan jujur tentang masa-masa ia lebih banyak menghabiskan waktu di kantin dengan membuat gerakan Lapak Baca di Kampus (Lentera Baca Mahasiswa) dengan teman temannya

aku juga menjawab tentang bagaimana gambaran 10 tahun aku kedepan dengan realistis dan terukur. Aku sangat menikmati ketika wawancara oleh psikologi itu karna aku pun juga dulu dikampus sering sok mewawancarai junior juniorku di kampus dan sering berdiksusi dengan abang-abangan kosanku yang sudah bekerja di arab saudi. bagi abang abanganku wawancara dengan psikolog sama aja ya ngedeketin perempuan  , yang penting yakin aja (hahaha)

Setelah rangkaian tes yang melelahkan itu selesai, aku kembali ke rutinitasnya di kampus . sekian minggu kemudian teman temanku ada yang mendapatkan SMS bahwa lolos tahap berikutnya

Namun saat itu saya tak kunjung mendapatkan SMS lolos ke tahap berikutnya. malam itu saya ke warkop dekat kosanku , warkop ini juga sering menjadi baseampku dengan teman teman. aku meminum kopi sendirian disana dan menerima kalau tidak lolos ke tahap selanjutnya

sejam kemudian temanku yang lolos juga datang ke warkop dengan senyum- senyum. lali menyelamati saya ,aku pun bingung , ku pikir dia ngeledek, ternyata dia memberitahukan di website rekrutemn ternyata ada namaku juga, aku pun langsung mengecek ke websitenya , dan ternyata alhamdulillah ada namaku disana.

Semenjak itu saya mulai serius untuk mempersiapkan 3 ter terakhir

di minggu depan tes nya, yaitu tes fisik dan kesehatan , mulai hari itu saya memulai pola hidup sehat dan olahraga.

hingga saya bisa melewati tes tersebut dan tiba lah tes terakhit yaitu tes kedepaman wawancara dengan User(atau Managemen Indonesia Power)

saat itu tes di kantor IP di Tanah Abang Jl.KS tubun

saya giliran terakhir di wawancara , pewawancara menyatakan saya tidak terlihat bersemangat seperti pelamar sebelumnya , lalu saya jelaskan saja saya memang tidak pandai mengekspresikan persaan sambil tersenyum , beberapa pertanyaan teknis untung saja bisa terjawab karena saya dahulu pernah Praktik kerja lapangan di PLTU Cilegon, memang PKL tidak wajib, namun ada hikmahnya saya jadi ada wawasan sedikit tentang dunia industru pembangkit.

Beberapa bulan kemudian, sebuah SMS masuk ke ponselnku. Mata berkaca-kaca saat membaca kata "Selamat". Ia diterima di Indonesia Power Sebagai  On job Training dan menandatangai kontrak sebagai calon pegawai Tetap.

Aku ini bukan anak pintar.
Bukan pula mahasiswa teladan dengan IPK tinggi.
Aku anak “kantek”—IPK pas-pasan, kemeja disemprot pilok biar layak dipakai.

Peluangku? Kecil.
Modal akademik? Biasa saja.
Kerajinan? Jujur, juga tidak istimewa.

Tapi hidup sering memberi pelajaran aneh:
yang terlihat kecil belum tentu sia-sia,
dan yang tampak mustahil belum tentu tertutup.

Aku tidak percaya keberhasilanku murni karena hebatnya diriku.
Kalau hari ini aku bisa berdiri di sini, itu bukan karena IPK, bukan karena CV yang mentereng.

Aku yakin, ini karena izin Allah
dan doa orang tua yang tak pernah putus—bahkan ketika aku sendiri ragu pada diriku.

Narasi hidupku sederhana:
kita boleh biasa saja,
kita boleh tidak sempurna,
tapi jangan pernah berhenti mencoba dan berserah.

Karena kadang,
Allah mengubah peluang kecil
bukan untuk membuktikan kita hebat,
tapi untuk mengingatkan bahwa kita tidak sendirian.