Jumat, 02 Januari 2026

Pengalaman Saat Rekrutmen Indonesia Power



Semester tujuh di Teknik Mesin Pembangkit Tenaga Listrik PNJ adalah masa yang paling santai menurutku. Mata kuliah makin sedikit, ritme kampus melambat, seolah memberi ruang bernapas sebelum hidup benar-benar menuntut jawaban. Banyak teman memilih menghabiskan waktu di perpustakaan, mengejar indeks prestasi yang masih bisa diselamatkan. Aku justru lebih sering ditemukan di Kantek—kantin Poltek yang sudah seperti rumah kedua.

Di sana, bukan buku tebal yang menemaniku, melainkan segelas es Nutrisari, kadang kopi hitam, dan tawa teman-teman yang mengalir tanpa rencana. Obrolan kami sering tidak penting: tentang hidup, tentang masa depan yang samar, tentang mimpi yang belum tahu akan ke mana. Waktu berjalan pelan, sering sampai larut malam. Di momen-momen itu, aku merasa hidup—meski bayang-bayang skripsi perlahan datang seperti awan gelap di kejauhan.

Aku sadar posisiku biasa saja. Nilai-nilaiku tidak secemerlang teman-teman sekelasku. Tidak ada prestasi akademik yang bisa dibanggakan. Di saat banyak yang sibuk pacaran, sibuk menjaga hubungan agar tetap utuh, aku justru sibuk menjaga kebersamaan dengan teman-teman. Nongkrong, bercanda, saling mendengarkan keluh kesah—itu caraku bertahan.

Kala itu saya mendaftar rekrutmen mahasiswa tingkat akhir perusahaan BUMN Indonesia Power yang bergerak dibidang pengoperasian dan pemeliharaan pembangkit listrik di indonesia. Ya perusahaan itu memang saya keteahui sejak semester 1 ,awal perkuliahan , karna memang prodi saya adalah pembangkit tenaga listrik.


"Teman teman kamu yang daftar rekrutmen Indonesia Power IPK nya tiga semua, hanya kamu yg dibawah tiga,Ya dicoba sajalah" kata Pak Hendra(samaran) dengan pesimis, dosen pembimbing Akademik Semester 7 -ku, sambil melihat transkrip nilaiku. IPK-ku hanya pas-pasan, bahkan tidak menyentuh angka tiga. Beliau tampak pesimis saat mengetahui berkas pendaftaran melamar ke Indonesia Power. Di matanya, aku hanyalah mahasiswa yang lebih sering nongkrong daripada belajar. Tapi bagiku, angka-angka itu tidak menceritakan seluruh perjuanganku.

Kejutan pertama datang lewat web recruitmen Indonesia Power. Aku lolos seleksi administrasi! Dari ratusan pelamar, namaku terselip di sana. Aku bersorak alhamdulillah dalam hati aku harus masih melewati tes delapan tahap untuk tembus ke perusahaan itu. Aku tahu ini akan sulit, tapi pintu itu baru saja terbuka sedikit untukku.

Hari itu aku langsung naik kereta untuk Tes tahap pertama dan kedua adalah TPA dan Tes Intelijensi di PPM Manajemen. Tes pertama aku santai dan mengandalkan logikaku saja soal soal TPA pada umumnya seperti numerik, sinonim, antonim dan premis dll

Seteleah selesai tahap pertama dan istrirahat dilanjut tes tahap kedua yaitu tes intelijensi. Jantungku berdegup kencang saat tes kedua melihat soal-soal termodinamika. Besaran entalpi dan siklus Rankine menatapku balik dengan sinis. Aku ingat betul, di kelas dulu, nilai termodinamikaku adalah D. Aku mencoba memutar otak, mengingat setiap penjelasan yang dulu hanya masuk telinga kiri dan keluar telinga kanan. Aku kerjakan semampuku, untung saja soalnya pilihan ganda dan ada soal bukan hitungan, soal soal berbasis wawasan.




.




 pukul menunjukkan 01.30 WIB. aku pun langsung bergegas tidur.

Pagi buta saya dan teman saya bernama Iqbal yang juga lolos tahap selanjutnya , kami langsung naik kereta untuk ke PPM managemen Dari depok ke Jakarta..
Tahap berikutnya adalah Tes Psikoetes,


Pagi itu, dengan hanya tidur tiga jam,  Tubuhku terasa berat ditambah lagi aroma khas cat di kemejaku yg sedikit menyengat, tapi aku harus menghadapi tes Kraeplin dan serangkaian tes psikotes. Menjumlahkan angka-angka tanpa henti di atas kertas lebar. Tanganku mulai kaku, sama kakunya dengan kemeja putih yang aku "pylox". Aku terus menghitung, berharap konsentrasiku tidak hancur oleh rasa kantuk yang luar biasa.

Selanjutnya wawancara Psikolog dan Focus Group Discussion (FGD). Di dalam ruangan ber-AC, kepalaku justru terasa panas dingin. Kami diberikan 10 point terkait indikator Perusahaan yang ideal , kami diminta untuk mengutukan prioritas dari nomer 1 hingga 10. Aku mencoba bicara dengan tenang, meski dadaku bergemuruh. Setiap kata yang keluar terasa seperti pertaruhan antara masa depan atau kembali ke titik nol di Kantek.

Aku belajar menahan diri untuk tidak terlalu dominan kala itu. namun ketika giliran saya bersuara dan berpedapat, saya sampaikan mana urutan pertama dengan argumen kuat saya, dan tidak terbantahkan ternyata saat itu , dibelakang kami 1 psikolog memperhatikan. 

Tahap wawancara menjadi tantangan terakhir yang berat. Pewawancara bertanya dengan tajam tentang IPK-ku yang rendah. aku menjawab dengan jujur tentang masa-masa ia lebih banyak menghabiskan waktu di kantin dengan membuat gerakan Lapak Baca di Kampus (Lentera Baca Mahasiswa) dengan teman temannya

aku juga menjawab tentang bagaimana gambaran 10 tahun aku kedepan dengan realistis dan terukur. Aku sangat menikmati ketika wawancara oleh psikologi itu karna aku pun juga dulu dikampus sering sok mewawancarai junior juniorku di kampus dan sering berdiksusi dengan abang-abangan kosanku yang sudah bekerja di arab saudi. bagi abang abanganku wawancara dengan psikolog sama aja ya ngedeketin perempuan  , yang penting yakin aja (hahaha)

Setelah rangkaian tes yang melelahkan itu selesai, aku kembali ke rutinitasnya di kampus . sekian minggu kemudian teman temanku ada yang mendapatkan SMS bahwa lolos tahap berikutnya

Namun saat itu saya tak kunjung mendapatkan SMS lolos ke tahap berikutnya. malam itu saya ke warkop dekat kosanku , warkop ini juga sering menjadi baseampku dengan teman teman. aku meminum kopi sendirian disana dan menerima kalau tidak lolos ke tahap selanjutnya

sejam kemudian temanku yang lolos juga datang ke warkop dengan senyum- senyum. lali menyelamati saya ,aku pun bingung , ku pikir dia ngeledek, ternyata dia memberitahukan di website rekrutemn ternyata ada namaku juga, aku pun langsung mengecek ke websitenya , dan ternyata alhamdulillah ada namaku disana.

Semenjak itu saya mulai serius untuk mempersiapkan 3 ter terakhir

di minggu depan tes nya, yaitu tes fisik dan kesehatan , mulai hari itu saya memulai pola hidup sehat dan olahraga.

hingga saya bisa melewati tes tersebut dan tiba lah tes terakhit yaitu tes kedepaman wawancara dengan User(atau Managemen Indonesia Power)

saat itu tes di kantor IP di Tanah Abang Jl.KS tubun

saya giliran terakhir di wawancara , pewawancara menyatakan saya tidak terlihat bersemangat seperti pelamar sebelumnya , lalu saya jelaskan saja saya memang tidak pandai mengekspresikan persaan sambil tersenyum , beberapa pertanyaan teknis untung saja bisa terjawab karena saya dahulu pernah Praktik kerja lapangan di PLTU Cilegon, memang PKL tidak wajib, namun ada hikmahnya saya jadi ada wawasan sedikit tentang dunia industru pembangkit.

Beberapa bulan kemudian, sebuah SMS masuk ke ponselnku. Mata berkaca-kaca saat membaca kata "Selamat". Ia diterima di Indonesia Power Sebagai  On job Training dan menandatangai kontrak sebagai calon pegawai Tetap.

Aku ini bukan anak pintar.
Bukan pula mahasiswa teladan dengan IPK tinggi.
Aku anak “kantek”—IPK pas-pasan, kemeja disemprot pilok biar layak dipakai.

Peluangku? Kecil.
Modal akademik? Biasa saja.
Kerajinan? Jujur, juga tidak istimewa.

Tapi hidup sering memberi pelajaran aneh:
yang terlihat kecil belum tentu sia-sia,
dan yang tampak mustahil belum tentu tertutup.

Aku tidak percaya keberhasilanku murni karena hebatnya diriku.
Kalau hari ini aku bisa berdiri di sini, itu bukan karena IPK, bukan karena CV yang mentereng.

Aku yakin, ini karena izin Allah
dan doa orang tua yang tak pernah putus—bahkan ketika aku sendiri ragu pada diriku.

Narasi hidupku sederhana:
kita boleh biasa saja,
kita boleh tidak sempurna,
tapi jangan pernah berhenti mencoba dan berserah.

Karena kadang,
Allah mengubah peluang kecil
bukan untuk membuktikan kita hebat,
tapi untuk mengingatkan bahwa kita tidak sendirian.




Rabu, 31 Desember 2025

Kehilangan Hampir 100 Juta Pertama



Akhir - Akhir ini mencuat lagi kisah penipuan berkedok dan embel embel syariah. ahh FAKK
.

Ini membuka luka lama saya di tahun 2023 lalu .Saya menulis ini bukan karena dendam pribadi, tetapi sebagai peringatan agar orang lain tidak ikut terjebak seperti saya.

Saya menulis kisah ini bukan karena dendam pribadi, melainkan sebagai peringatan agar orang lain tidak mengalami apa yang pernah saya alami.

Kisah ini adalah tentang kehilangan Hampir 100 juta(100 Juta Kurang sedikit sih sbnernya mah di 90 an jt 😁) pertama saya—kehilangan yang terjadi bukan karena spekulasi berisiko tinggi, bukan karena judi, dan bukan karena gaya hidup berlebihan, tetapi justru ketika saya berusaha berhati-hati dan memilih lembaga yang saya yakini aman secara nilai dan prinsip.

Saya menabung di Koperasi BMT Ash Shiddiq dengan niat yang tulus:
ingin menghindari riba, ingin mendukung lembaga berbasis syariah, dan percaya bahwa prinsip amanah akan dijaga dengan sungguh-sungguh.

Bagi saya, kata syariah bukan sekadar label. Ia adalah janji moral.

Namun berdasarkan pengalaman pribadi saya, kenyataan yang saya hadapi tidak sejalan dengan harapan tersebut.

Sejak sekitar Agustus 2023, saya tidak lagi dapat menarik simpanan saya.
Pada awalnya terdapat penundaan dan penjelasan, kemudian janji-janji yang tidak kunjung terealisasi. Hingga pada satu titik, pelayanan berhenti dan kantor tidak lagi beroperasi sebagaimana sebelumnya.

Saya telah berupaya menempuh jalan yang tersedia bagi anggota: komunikasi, permintaan resmi, hingga mengirimkan surat somasi. Akan tetapi, dalam pengalaman saya, tidak ada penyelesaian yang memberikan kepastian atas hak saya sebagai anggota.

Saya juga pernah membawa persoalan ini ke ranah hukum.
Pengadilan pada akhirnya menolak gugatan saya dengan pertimbangan kewenangan dan aspek teknis, bukan dengan menilai substansi kerugian yang saya alami. Putusan tersebut saya hormati sebagai proses hukum, namun tidak menghapus fakta bahwa saya kehilangan akses atas dana saya.

Berdasarkan dokumen dan informasi yang saya miliki, terdapat struktur pengurus dalam koperasi tersebut. Sebagai anggota, saya beranggapan bahwa pengurus memiliki tanggung jawab moral dan organisatoris terhadap dana anggota, termasuk memastikan adanya pelayanan, transparansi, dan mekanisme penyelesaian ketika terjadi masalah. Ketika hal-hal tersebut tidak saya rasakan, saya menilai telah terjadi kelalaian dalam pengelolaan amanah, setidaknya dari sudut pandang saya sebagai anggota.

Yang paling berat bukan hanya soal nominal uang.
Tetapi rasa kehilangan kepercayaan—kepercayaan yang dibangun atas nama nilai dan keyakinan.

Saya menabung dengan itikad baik.
Saya mengikuti aturan.
Saya bersabar.

Namun hingga tulisan ini dibuat, saya belum mendapatkan kembali hak saya.

Saya jujur pada diri saya sendiri:
saya belum mengikhlaskan satu rupiah pun dari dana tersebut.
Bukan karena semata-mata nilainya, tetapi karena itu adalah hasil kerja keras, waktu, dan harapan yang saya titipkan dengan penuh kepercayaan.

Jika pada akhirnya di dunia ini tidak semua perkara dapat diselesaikan secara tuntas, saya meyakini bahwa pertanggungjawaban moral dan spiritual tetap ada. Bukan untuk balas dendam, melainkan agar amanah tidak dianggap ringan.

Kepada siapa pun yang membaca tulisan ini, izinkan saya menyampaikan satu pesan penting:

Berhati-hatilah.
Jangan hanya melihat nama, label, atau klaim syariah.
Tanyakan tata kelola, pengawasan, transparansi, dan perlindungan hukum bagi anggota.
Keimanan seharusnya membuat kita lebih bijak, bukan lebih lengah.

Semoga kisah kehilangan 100 juta pertama saya
cukup menjadi pelajaran,
agar Anda tidak perlu mengalami hal yang sama.

Tulisan ini saya pertanggung jawabkan hidup dan mati
sampai jumpa dipengadilan yang paling adil di akhirat kelak :)



31/12/2025

Minggu, 23 Februari 2020

Ada apa dengan rebon



Sore ini membuat aku gerah di rumah kontrakanku aku pun pergi keluar berencana membeli minuman dingin dan makanan ringan di warung sekitar rumah sembari mencari angin. aku pun menuju warung yang berjarak sekitar empat rumah itu,namun dari kejauhan aku melihat rolling doornya tertutup rapat. aku pun langsung memutar arah dan berjalan untuk mencari warung yang lain. aku teringat di belakang rumah menyusuri gang ada satu warung serupa,aku pun bergegas. saat aku melewati depan rumah tetanggaku seorang wanita tua yang sedang duduk menyendiri menyapaku dengan ramah
"mau kemana bang?"
"mau ke warung bu" jawabku dengan sumringah
sesampai di warung aku pun mengambil minuman dan cemilan. saat aku bayar sembari sang ibu pemilik dengan warung kelontong itu mengumpulkan kembalian. aku melihat sekitar dan aku melihat ada rebon sebungkus (anakan udang yang kecil kecil) dan aku pun bertanya 
"ini berapaan bu?"
"lima ribu" jawabnya
karna akhir-akhir ini semenjak kontrakan kami memiliki kulkas aku jadi sering memasak sendiri. 
masih dengan senyum sang ibu pemilik toko itu memperhatikan gelagatku. aku pun menyatakan untuk membelinya dan ibu itu sedikit seperti senyum terheran lalu berkata.
"masa ganteng-ganteng makan rebon" 
tesentak aku dalam hati "emang cuma yang gak ganteng doang yah yang boleh makan rebon"pikirku

Lalu aku pun berfikir lebih sederhana dengan cepat "mungkin sang ibu pemilik toko ini mengira aku untuk makan di cemilin langsung"
aku pun menjelaskan lebih dengan berkata
"Engga ini buat di masak kok bu"
"Oh masak apa ?" dengan wajah tak percaya
"Iya kaya nasi goreng atau tumis kangkung gitu"
"Oh gitu"dengan senyum 
aku pun menafsirkan senyum akhir nya adalah senyuman salut kepadaku. aku pun berlalu tak lupa mengucapkan terima kasih. 
sepanjang perjalanan aku memikirkan emang rebon gak boleh dimakan sama yang ganteng atau rebon merupakan makanan yang rasis sehingga ada pemisahan antara yang tampan dan tidak. ah sudahlah yang penting aku sudah ada rebon sekarang.
aku pun sampai rumah dan menuliskan ini di kamarku  .
23/02/2020
Pelabuhan Ratu

Farras,23Tahun


Senin, 13 Januari 2020

Berlayar dengan dua sahabat kecil





Pengalaman pelayaran terlama dengan rute Panjang,Bandar Lampung - Tanjung Priok,Jakarta. Perjalanan ini saat 30 Agustus 2016 dan baru ditahun 2020 ini baru dapat terealisasikan menjadi video dokumenter.

Penumpang kapal yang di dominasi oleh truk-truk besar. dikapal ini dengan membawa mobil pribadi cuma terlihat ada dua mobil termasuk kami.

Dalam sehari hanya ada 3x Keberangkatan Menuju Jakarta. Kami datang di Pelabuhan Panjang Jam 12 Dini Hari. Sampai disana pun Menunggu kapal bersandar dan kami baru naik kapal sekitar jam satu dini hari lalu berangkat sekitar pukul 04.00. kurleb 3 Jam untuk melakuka trimming kapal. karna benar benar muatannya adalah truk truk besar yang dimana setiap truk mendapat penambahan keamanan seperti tali khusus yang dikaitkan ke lantai deck kapal betujuan keseimbangan truk mencegah truknya jalan sediri hahaha

Kami pun sempat mengobrol dengan seorang sopir didalam kapal sana.
dimana mereka senang dengan adanya rute kapal Jakarta-Bandar Lampung (PP) dikarenakan untuk biaya lebih hemat. bisa tidur dan hemat kampas rem. serta terhindar dari pemalakan liar yang sering terjadi di jalan jalan baik oleh oknum berseragam maupun tidak berseragam
Bapaknyapun sempat berbagi pengalaman selama menjadi supir truk dari pengalaman lucu dan mistis

Selasa, 03 September 2019

Membakar Kelas

Baca kenangan di facebook liat komenan ini mengingatkan aku dengan cerita saat masih SMA Kelas 11.



Dimana siang itu saatnya pindah kelas di gedung yg berbeda  karna masuk jam bimbel wajib dari sekolah dari jam 14.00-15.30 WIB
Kelas kami berada di lantai tiga paling pojok.

Sebagian besar teman teman yg rajin di kelas sudah mulai beranjak pindah. Saya berlima dengan teman saya masih saja malas malaasan dan tidak beranjak malah ngobrol ngobrol ga jelas,berniat untuk tidak  masuk kelas bimbel.
waktupun semakin berlalu.

lalu datanglah satu teman kami bernama Fahreza dari kelas sebelah. sambil membawa dan korek .*fyi:dia membawa korek bukan karena dia perokok

Sampai sangking sudah tidak ada obrolan lagi kelas sempat hening. tiba tiba aku kepikiran untuk memulai "eksperimen" dimana saat itu kelas habis ada lomba kebersihan dan menghias kelas dari sekolah jadi dipojok kelas belakang ada banyak cat dan thinner.

Yap. Aku mengambil thinner di belakang kelas dan mengambil korek Fahreza untuk bereksperimen bodoh.

Thinner + Korek = Api .

aku,rendi,sabil dan fahreza main api apian di kelas, dua teman ku mereka sedang mengobrol meja bagian tengah .

meneteskan sedikit thinner lalu di hidupkan di meja . pas apinya menyala di meja selama lima sampe sepuluh detik lalu mati sendiri,proses itu kita liatin sambil senyam senyum takjub bodoh wkwkw #kalo di pikir pikir bener ga berfaedah sii ini.

Sampai benar benar itu itu saja kami bosan. kami mencoba yg lebih keren . yap, kami mencoba dengan baskom berisi air sekitar satu literan. awalnya sedik,kali ini temanku yg bernama rendi dia mencampurkan seluruh isi satu botol thinner ke dalam ke baskom itu sambil wajah seringai dia. akupun mengeksekusi nya. kulanjut dengan menghidupkannya dengan korek gas ditangan.
saatku hidupkan .

"DHUAAAR" API LANGSUNG MENYAMBAR DENGAN BESAR,kira kira tinggi apinya setengah meter lebih . dan itu benar benar tepat dihadapan kita .

yang tadinya masih ketawa ketawa sekarang semua terdiam dan kaget tidak menyangka bisa sebesar itu . aku yang kaget dan tanoa pikir panjanv kala itu langsung reflek membuang baskom yang penuh dengan api itu kedepan dan jatuh ke lantai

apa yang terjadi ?

Yaap apinya menyebar ke sekitar kami
dengan cepat menjalar di lantai dan meja
wah disitu benar benar panik karna api tidak mati mati.
untungnya temanku yg bernama fahreza dengan sigap menghindar .kalau tidak mungkin dia ikut terbakar

kami semua benar benar panik kala itu. sangking paniknya akupun hanya bilang "wei aer wei cari aer"
sempet terfikir ngelepas seragam buat matiin apinya tapi terurungkan karna sepertinya tidak efisien .

alhamdulillahnya saat itu teman saya bernama rendi maramis wilson dan dia juga adalah rekan bisnis donat saya selama SMA, dengan sigap rendi menyiram api itu dengan seember air kotor yg berisi kuas cat  ke lantai .

api pun padam

seperempat kelas pun basah dan berantakan di bagian belakang .

pasca kejadian itu pun masih lanjut ketawa ketawa lagi 😂 saling menertawakan kejadian tadi

akhirnya kami membereskan kelas yg basah dan berantakan tersebut.akhirnya kami mengurungkan untuk bolos dan langsung menuju kelas bimbel.

Pesan dari penukus : jadilah siswa yang baik jangan aneh aneh.


Minggu, 03 Maret 2019

Perdebatan hening di atas kapal



Jadi ceritanya gini ..
Pas itu gua mau pulang ke Lampung lewat jalur darat, otomatis kan naik kapal laut.
naah pas di atas kapal, kapalnya  masih ngetem/sandar/nunggu penumpang di merak.
karna gua belum sholat magrib dan isya gua memutuskan untuk mencari mushola di kapal ferry yang gua tumpangi.
setelah mengambil air wudhu dan masuk ke musholla.
gua liat ada bapak-bapak sholat dengan kiblat ngikutin kebanyakan arah sejadah (maksud gak ?).
karna gua orang nya gak suka ngikutin kebanyakan orang dan memiliki prinsip diri yang kuat.
lalu gua mencari cara untuk memastikan arah kiblat yang benar.
ternyata ada petunjuk di dinding mushola dengan bacaan "kompas ada diatas mimbar"
setelah gua menuju mimbar dan melihat kompas.
ternyata arah kompas menunjukkan berlawanan dengan arah sejadah di musholat itu.
gua semakin yakin dan percaya diri setelah gua cek di aplikasi kiblat di hp gua.
akhirnya gua sholat dengan berlawanan bapak itu.
pas rokaat ke dua ada ibu ibu dan pemuda yang juga mau sholat.
sholat gua mulai gak khusyu karna gua di ketawain sama ibu-ibu dan permuda tersebut.
dia heran sama gua karna gak ngikutin kebanyakan arah sejadah.
beda dengan bapak yang sedang sholat pertama tadi dia ngikutin kebanyakan arah sejadah
gua sholat gak khusyu banget saat itu.
tapi langsung banyak istigfar aja gua.
setelah selesai sholat gua langsung pergi.
saat gua berada di luar mushola.
gua liat pemuda itu sholat dengan arah yang sama kayak gua dan ibu ibu yang tadi sama yang kayak bapak bapak pertama tadi

TAMAT ~ nanti kalo ada waktu gua ceritain perdebatan kiblat yang pake urat di atas kapal

Menemukan Tulisan ini ketika membersihkan file file lama a
Berkas 10 Oktober 2014



Jumat, 16 Desember 2016

Polisi dan E-Tilang

Seiring perkembangan zaman teknologi semakin canggih. Dulu hp cuma bisa nelpon sekarang hp udah bisa ngedit poto, nonton film bahkan baca kitab . Ya teknologi memang bertujuan untuk memudahkan hidup manusia. Ngomong-ngomong dengan teknologi. Baru-baru ini Kepolisian RI meluncurkan terobosan baru yaitu : e-Tilang , e-Samsat , Sim Online.



*e-tilang itu berfungsi untuk memudahkan dalam pengurusan dan pembayaran denda tilang dengan mudah dan cepat
*e-samsat bertujuan untuk meningkatkan pelayanan pembayaran pajak daerah dan registrasi kendaraan bermotor dengan inovasi pembayaran melalui ATM
*sim online untuk memudahkan penerbitan dan perpanjangan SIM (surat izin mengemudi) melaui gerai sim /sim keliling di seluruh Indonesia dengan memanfaatkan server e-ktp di Kemendagri

Terobosan baru yang diluncurkan oleh kepolisian ini harus di apresiasi,Memanfaatkan teknologi yang sedang berkembang jadi kalo dulu mau bayar pajak di samsat harus ngantri segala macem. Sekarang udah bisa lewat online bayar di ATM .

Btw, Gua pikir pikir kenapa kepolisian gak sekalian aja bikin terobosan "e-sim dan e-stnk" berbasis android gitu yang bisa di log in. Terus bisa di download di play store/app store jadi memudahkan pengguna kendaraan kalo dia lupa bawa sim dan stnk Perihal kekurangan dan kerugiannya ya tinggal di sempurnain.
Tentu bayangan gua kalo itu berlaku menekan angka tilang pastinya. Iya gak sih (ga juga sih) 😂

Asal jangan ada e-helm aja. Gak masuk akal itu mah. Eh tapi daripada orang yang gak pake helm itu ditilang . mending uang tilangnya itu untuk dia beli helm. Iya ga sih.

Sebenernya gua kurang setuju pelanggaran itu dibayar dengan denda seakan akan orang yang punya banyak uang bisa bebas melanggar. Ya pikirnya kan tinggal bayar. Coba dibikin hukuman apa gitu yang bisa ngasih manfaat. Kayak bersihin sampah atau apa gitu.
Terus kalo emang terpaksa harus ada tilang coba dibikin transparan dana udah masuk berapa. Terus dana tilang yang terkumpul itu untuk apa. Buat websitenya. Kan masyarakat berhak juga ya tau. (Apa emang udah ada ? Gua nya kurang update berati )


Yasudahlah gua cukupkan sampai disini dulu.tulisan nihil tanpa makna ini.




Farasitisme